05
Feb
07

Sebuah Catatan Singkat Untuk Florine 1

Sebuah Catatan Singkat Untuk Florine

Kekuasaan bukan segala-galanya sebagai jalan untuk mengubah sesuatu, kekuasan mungkin mengambil sebagian kecil dari sepenggalah “episode” dalam perubahan  itu sendiri. Jadi jelas persoalan merubah sesuatu bukan semata-mata kekuasaan. Jadi jelas bahwa apa yang seharusnya digarap bukan sekedar menggarap kekuasaan semata-mata. Kekuasaan mungkin mengambil peran struktural dalam perubahan, membuat sebuah perubahan tanpa memperhitungkan peran struktural, jelas sebuah perubahan yang mengada-ada. Pada saat lengsernya Soeharto, mungkinkah, hanya demo mahasiswa sebagai sebuah tekanan semata. Mungkin kita luput dari ingatan bahwa ada sebagai dari menteri di kabinetnya Soeharto yang mengundurkan diri. Maksudnya sangat mungkin bahwa pembangkangan secara struktural anggota kabinet  tersebut, bisa sangat jadi adalah faktor yang tentu saja menjadi perhitungan dari analisa kita tentang perubahan.

Seperti kita ini misalnya. Berapa tahun sebenarnya kita fasih setiap harinya bicara tentang reformasi, tapi, apa mungkin kita memang sampai pada sebuah jalur yang benar. Sehingga tentu saja mempengaruhi tujuan kita pula untuk memperbaiki. Tentu ini bukan satu pertanyaan individual, melainkan sebuah keluahan komunal dari bangsa yang tengah mengalami sebuah stagnasi akutnya yang luar biasa. Dan istirahat ditempat pada bukan tempatnya. Jadilah bangsa ini bangsa yang “begini”.

Apa lengsernya Soeharto lantas akan memperbaiki keadaan. Suatu perubahan telah terjadi. Entah apa namanya yang pasti mungkin sedikit banyak dalam pandangan  awam, kira-kira begini : harga-harga melonjak sekian kali lipat, kitapun pernah mengalami masa “ngantri” beras beberapa tahun yang lalu, kondisi keamanan yang semakin meningkat tidak aman, masalah kenakalan pelajar yang semakin hari bertambah makin “ganas” dan “beringas”. Belum lagi masalah obat-obatan terlarang.

Apasih yang kita mengerti tentang kapitalisme ?

Apakah kapitalis sekedar Amerika, sekedar modal, sekedar penghisapan, sekedar perusahaan multinasional yang memiliki kantornya dimana-mana dipelosok dunia ini.Terus terang pertama kali anda bilang, anda “benci kapitalis” jelas ada semacam kebanggan didiri saya pribadi mengenai sosok anda. Namun itu juga menimbulkan pertanyaan baru, bahwa kapitalisme yang anda maksud itu yang mana?

Pandangan terhadap, Pandangan Anda Tentang Kapitalisme

Mungkin, bisa jadi siapapun bisa teriak anti kapitalis. Permasalahannya sekarang atas dasar apa sebuah kapitalis memang harus kita hujam. Sedangkan jangan-jangan, padangan kita tentang kapitalis itu sendiri terlampau cetek dan tidak berdasar sama sekali dan jauh dari argumentasi yang memadai. Hal ini jelas untuk membedakan, suatu pandangan yang teramat simplistis, terhadap kebencian pada suatu negara atau kelompok.

Belum lagi pertemuan anda dengan ruang “kapitalis” tadi merupakan oleh-oleh ruang menara gading yang jauh dari sisi realisme, romantisme, dan pengalaman yang justru sangat penting untuk memahami realitas sesungguhnya tentang binatang bernama “kapitalis” tadi. Atau jangan-jangan seperti yang dikatai oleh Yudi Latif. “disonansi intelektual”—anda sedang teriak anti rokok, sementara mulut anda menghisap sebatang daripadanya. Ini jelas bukan sekedar ungkapan untuk sekedar meledek, secara satir. Bukan itu maksudnya. Tapi memahami noumena mungkin jauh lebih penting dan utuh daripada sekedar memahami fenomena secara sepotong-sepotong. Jelas kebencian kita terhadap sesuatu adalah bukan kebencian mitos. Dan sementara kesadaran anda sepenuhnya belum final dan matang.

Mitoslah yang akhirnya membuat polusi dalam lingkungan mental kita karena perbahasaan yang kita gunakan. Maka dalam kaitan ini tentu anda perlu menyimak apa yang diperingatkan oleh Roose

Poole

dalam Morality and Modernity (1991) ketika ia membahas rasio komunikasi dari Habermas : “ Pemakaian bahasa hanya akan memiliki otoritas moral untuk membendung perluasan lebih lanjut dari rasio instrumental, kalau bahasa itu sendiri tercakup dalam sebuah teori yang lebih komprehensif mengenai kebaikan manusia”.

Jadi ada dimana kesadaran anda akan kata-kata anda?

Betapa Hipokritnya kita. Kita bicara tentang perbaikan moral sementara kita sendiri mungkin alpa bahwa ada sesungguhnya yang menjadi landasan krisis moral itu, sementara kita membiarkan polusi “ruang batin” kita. Bayangkan bagaimana hipokritnya kita.

Mungkin benar, bahwa kita membenci kapitalis, tapi juga kita boleh memnyimak apa yang diungkapkan opleh Teman saya Jumhur Hidayat. dari sebuah tulisan yang ditujukan kepada kawannya saat ia tengah di Penjara Suka Miskin,

Bandung

, tahun 1991 : “pengeksploitasian hubungan cinta muda-mudi yang diwujudkan dalam bentuk film, perhiasan, hura-hura dan sebagainya, pada intinya tidak lain adalah pemenuhan kepuasan murahan. Begitu juga halnya dengan hari-hari yang sebelumnya tidak bernilai profit, setelah disentuh dengan tangan kapitalis berubah menjadi bernilai profit seperti hari kasih sayang (Valentine, 14 Pebruari)

Dalam sebuah tayangan televisi yang mengulas acara otomotif. Dalam salah satunya menampilkan sekual mengenai klub otomotif anak muda. Berderet mobil-mobil mewah lengkap dengan ulasan variasinya yang jelasnya tentu juga menguras decak kagum. Berapa banyak uang yang harus keluar, jangan dulu bicara harga mobilnya, tapi “dandanan” mobilnya saja sudah bikin sebagian manusia kita mungkin tertawa nyinyir (tertawa sambil menangis). Kok bisa ya?… Lantas seorang kawan nyeletuk ; “gimana kalo yang kayak gini nih BPK langsung “bergerak”—anak-anak siapa tuh?, kalau ternyata anak pejabat publik dari mana uangnya?

Kan

bisa langsung diperiksa, nah kalo kayak gitu ceritanya,

Indonesia

bisa cepet keluar dari krisis”.

Tugas para  intelektual adalah menarik gerbong “ Revolusi Mental” dengan motornya : “hasrat jiwa untuk menolong sesama”, sebuah metodologi alternatif untuk memperjuangkan orang-orang tertindas (“Revolusi Tanpa Darah”). M. Dawam Rahardjo.

Tesis Paulo Freire ; dalam Fear of Freedom: Authoritarian can be so tempting, freedom can be so fear: bahwa manusia akan takut kepada kebebasan jika sudah terlalu lama ditindas atau ditekan.

Teori adalah jaring untuk menangkap realitas sosial, demikian kata Ralf Dahrendorf.

Bookmark and Share



0 Responses to “Sebuah Catatan Singkat Untuk Florine 1”


  1. No Comments

Leave a Reply